JANGAN TAKUT UNTUK MENULIS
Rendahnya minat baca dan tulis dikalangan masyarakat, khususnya para pelajar tentu akan mempengaruhi kualitas pendidikan juga. Pendidikan di Indonesia saat ini jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara seberang Malaysia. Hal ini terjadi karena rendahnya minat baca itu.
Apa para pembaca tahu jika mulai tahun ini para Mahasiswa wajib memiliki jurnal ilmiah? Tentu, Hal ini dilakukan bukan tanpa sebab. Tetapi hal ini dilakukan karena total karya ilmiah dari perguruan tinggi di Indonesia masih sangat rendah dan hanya sepertuju dari Malaysia.
"Rumus agar dapat menulis dengan baik ialah dengan 3M yaitu Membaca, Membaca, dan Membaca" begitulah kata Riyanto El-Harist pada saat mengisi pelatihan kepenulisan di sekolah kami. Hal itu tak dapat dipungkiri lagi, jika minat baca itu rendah bagaimana mereka bisa menulis? Sedangkan membaca merupakan kunci agar dapat menulis. Seorang teman saya mengeluh tentang hal itu karena dia tak mempunyai cukup uang untuk membeli buku, namun apakah itu bisa dijadikan sebuah alasan untuk malas membaca? Ingat, "Membaca tak harus membaca buku, bacalah setiap tulisan yang ada" -Jonru Ginting-.
Selain hal karena malas membaca biasanya seseorang malas menulis karena takut tulisannnya tak diterima, malu jika tulisannya jelek dan tak berkualitas.
Pertama kali menulis tak harus panjang-panjang, tetapi cobalah menulis beberapa kalimat saja. Jika hal itu terus menerus diasah lama kelamaan pasti akan banyak juga. Tak peduli baik buruknya kualitas yang ditulis, "tulis saja".
"Mereka malas untuk menulis karena belum mengetahui manfaat dari menulis" itulah kata Mira Pasolong yang juga seorang Novelis asal Mamuju. Lain juga dengan komentar seorang penulis cilik yang mengaku jika ia menulis masih tergantung pada mood(perasaan).
Kira-kira apa yang menjadikan anda sehingga malas menulis? Diberbagai jejaring sosial sangat banyak grup-grup yang dapat mewadahi anda untuk menulis, Facebook contohnya. Saya telah membuat suatu grup kepenulisan yang dapat menampung itu semua, yaitu grup "SulBar Menulis", grup ini banyak dihuni oleh penulis-penulis nasional kita, namun sayangnya yang merespon grup ini masih sangat sedikit.
Masih banyak lagi alasan-alasan yang menurut mereka mungkin itulah penyebab sehingga mereka malas untuk menulis.
Banyak orang yang mengira kalau kegiatan menulis itu hanya dilakukan oleh orang-orang sastra saja. Tapi, tahukah anda ternyata survey telah membuktikan bahwa sangat jarang ada penulis yang awalnya bersal dari jurusan sastra. Justru kebanyakan diantara penulis-penulis nasional kita yang berasal dari luar jurusan sastra. Taufik Ismail,siapa yang tak tahu dengan nama itu. Banyak yang tak tahu kalau Taufik Ismail sebenarnya adalah seorang dokter hewan. Begitu juga dengan sastrawan Marah Roesli.
Jadi, jangan mengira jika bukan jurusan sastra tak dapat membuat sebuah tulisan yang baik.
Apa saya orang sastra? Bukan! Saat ini saya sedang bersekolah di sekolah kejuruan di kotaku, dan jurusan yang saya ambil adalah jurusan Teknik Gambar Bangunan. Asal anda tahu, sebelum saya menulis banyak sekali cercaan yang datang kepada saya, "kamu itu orang teknik, kalau urusan tulis menulis itu jurusannya orang-orang sastra. lebih baik kamu pindah sekolah saja, tidak usah diteknik....". Tapi toh, saya tetap bisa menulis walau kualitasnya tak sebaik mereka yang profesional. "Justru sebaliknya orang-orang yang keluaran sastra itulah yang sangat jarang ditemukan buku-bukunya dipasaran" itulah tulisan dari Herien Priyono dalam bukunya Mind Writing. "Justru banyak sarjana sastra yang tak bisa menulis, karena belum apa-apa mereka sudah terbebani dengan teori-teori bangku kuliah" kata Jonru Ginting yang juga penggagas sekolah menulis online Writers Academy.
So, saran saya yaitu perbanyaklah membaca, baik membaca buku, majalah, koran dan sebagainya yang bermanfaat. Cobalah tulis apa yang ada dipikiran anda, mau ungkapan kesedihan, bahagian, dll. Sekali lagi, masalah kualitas itu adalah bagian terakhir. "Tugas anda hanyalah sebagai seorang penulis, bukan sebagai seorang penyunting"-Dul Abdul Rahman-, mau kualitasnya baik maupun buruk, diterima maupun tidak, itu terakhir!
Saya teringat akan perkataan novelis Riyanto El Harist pada saat menjadi pemateri kepenulisan disekolah kami, "....pertama kali saya menerbitkan buku, naskah saya langsung ditolak oleh tiga penerbit, penerbit pertama dan kedua memiliki alasan-alasan tertentu untuk menolak naskah saya, tetapi penerbit ketiga seakan tak mempedulikan naskah yang saya kirim. Saya berterima kasih jika ada yang mengkritik naskah saya, dan saya akan merasa tersinggung jika tak ada yang mengkritik naskah saya...."
Jika penulis profesional saja lebih menyukai akan kritikan, mengapa kita yang pemula harus takut akan kritikan itu? Menurut saya itu adalah sebuah hal wajar jika penulis pemula mendapatkan berbagai kritikan. Biasanya yang akan muncul dibenak kita sebagai pemula yaitu takut dikritik, takut naskahnya tidak diterima pada masyarakat umum, Jika takut dikritik, bagaimana bisa berkembang? kalau naskahnya ditolak? kan hanya beberapa kali saja.
Thomas Alva Edison saja pernah gagal 10083 kali dalam mencoba eksperimennya, tetapi jika dia berusaha, dan berhenti harus berhenti melakukan eksperimennya mungkin kita tidak bisa menikmati Internet seperti saat ini.
Kesuksesan itu tidak ada yang instan(Mario Teguh), So, Mengapa kita harus Takut???
Salah, jika Anda mengatakan bahwa saya nggak BISA menulis,
seharusnya Anda mengatakan bahwa saya nggak BIASA menulis,
karena itu, cara terbaik menulis adalah membiasakan untuk terus menulis, dan rajin- rajinlah menulis, kata orang, BISA karena BIASA, percuma sejuta mimpi jika kita tidak merajutnya menjadi nyata, percuma segudang motivasi jika kita tidak beraksi menjadikannya ada, jangan galau memikirkan masa depan naskah ditolak ada atau tidak jangan sedih atas kegagalan di masa lalu karena dibilang tulisan jelek dan ditolak,
ingat, YESTERDAY is a HISTORY, TOMORROW is a MYSTERY. TODAY is a GIFT. Ayo, beraksilah, kawan!dunia menanti karyamu!
Selamat Menulis,
Salam Sukses, J
(Radar Sulbar, 2012)
No comments:
Post a Comment
Sahabat, berkomentarlah dengan santun.. Melalui komentar, semua orang dapat menilai sikapmu.. :)