Rabu,22 desember 2010.
Waktu pulang sekolah telah tiba, semua orang lekas meninggalkan sekolah, kecuali diriku dan beberapa teman lainnya. Setelah beberapa menit kami memutuskan untuk pulang, berjalan dan berjalan saya tiba-tiba kaget, ada seorang anak yang masih kecil tapi sungguh berat beban hidupnya karena dia harus memulung, melihat anak itu saya sangat terharu bahkan serasa ingin meneteskan air mata. Mengapa di zaman yang begitu canggih ini masih ada anak-anak yang menjadi tulang punggung keluarganya, sementara kita orang yang merasa diri mampu justru membuang buang begitu saja barang barang dan harta yang di berikan tuhan?
Karena penasaran saya bertanya kepada anak itu
" dik, tidak sekolah?" tanyaku.
" tidak" jawabnya,
lalu kutanya lagi "kenapa tidak sekolah?",
diapun menjawab " karena orang tuaku sudah tidak mampu lagi".
Sungguh sangat disayangkan dengan adanya program pendidikan gratis, tetapi masih saja ada anak anak yang seharusnya sekolah, tapi tidak dapat bersekolah. dan karena penasaran lagi dengan penghasilannya saya bertanya kembali
" kalau satu karung penuh, dijualnya berapa?",
diapun menjawab " hanya Rp2000".
Sungguh malang nasib anak ini berpanas panasan mulai pagi hingga sore tapi hanya mendapatkan Rp 2000...
Saya berkesimpulan " Mungkin tuhan memberikan segala sesuatu kepada kita hanya untuk menguji diri kita, sampai dimna rasa perhatian kita terhadap orang orang itu,dan sampai kapan kita dapat mengelola harta itu. "
" Kasihanilah mereka yang tidak mampu, niscahya mereka akan mendoakanmu dan Tuhan pasti akan menjawabnya"
~) Ingat: Segala harta yang di berikan kepada kita hanya sementara saja, dan harta yang di berikan itu hanyalah ujian untuk kita semua. Maka manfaatkanlah harta yang di berikan Tuhan sebaik-baiknya"
Waktu pulang sekolah telah tiba, semua orang lekas meninggalkan sekolah, kecuali diriku dan beberapa teman lainnya. Setelah beberapa menit kami memutuskan untuk pulang, berjalan dan berjalan saya tiba-tiba kaget, ada seorang anak yang masih kecil tapi sungguh berat beban hidupnya karena dia harus memulung, melihat anak itu saya sangat terharu bahkan serasa ingin meneteskan air mata. Mengapa di zaman yang begitu canggih ini masih ada anak-anak yang menjadi tulang punggung keluarganya, sementara kita orang yang merasa diri mampu justru membuang buang begitu saja barang barang dan harta yang di berikan tuhan?
Karena penasaran saya bertanya kepada anak itu
" dik, tidak sekolah?" tanyaku.
" tidak" jawabnya,
lalu kutanya lagi "kenapa tidak sekolah?",
diapun menjawab " karena orang tuaku sudah tidak mampu lagi".
Sungguh sangat disayangkan dengan adanya program pendidikan gratis, tetapi masih saja ada anak anak yang seharusnya sekolah, tapi tidak dapat bersekolah. dan karena penasaran lagi dengan penghasilannya saya bertanya kembali
" kalau satu karung penuh, dijualnya berapa?",
diapun menjawab " hanya Rp2000".
Sungguh malang nasib anak ini berpanas panasan mulai pagi hingga sore tapi hanya mendapatkan Rp 2000...
Saya berkesimpulan " Mungkin tuhan memberikan segala sesuatu kepada kita hanya untuk menguji diri kita, sampai dimna rasa perhatian kita terhadap orang orang itu,dan sampai kapan kita dapat mengelola harta itu. "
" Kasihanilah mereka yang tidak mampu, niscahya mereka akan mendoakanmu dan Tuhan pasti akan menjawabnya"
~) Ingat: Segala harta yang di berikan kepada kita hanya sementara saja, dan harta yang di berikan itu hanyalah ujian untuk kita semua. Maka manfaatkanlah harta yang di berikan Tuhan sebaik-baiknya"
feature yg bagus.... tp mgkn kata PUN bisa dikurangi pemakaianx. Oya, my next novel will be about garbage collector (pemulung)
ReplyDeleteIya buu.. Maaf, tulisan baru mulai.. :)
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete