.. okey lanjut lagi..
pembahasan kemarin sampai kalimat "Laa YukallifuLLAHu
nafsan ILLA wus-aha"...
jadi gini, sebelumnya saya mohon maaf kepada kawan2..
saya bukan ingin mengajari,, ataupun sebagainya..
![]() |
| (Gambar Ilustrasi. Sumber :rumahjurnalku.blogspot.com) |
next... akhir-akhir ini saya baru sadari semua kelemahan
saya. Terkadang saya ini terlalu cepat men"judge" diri saya sendiri,
sehingga rasa putus asa selalu saja menghantui.
Terkadang kita terlalu mudah untuk berputus asa, terlalu
mudah untuk men"judge" bahwa diri kita tak mampu
dalam menyelesaikan sebuah
permalasalahan. Terkadang kita menganggap kita lebih baik mundur dalam
persoalan itu. Padahal sadarkah kita jika sebenarnya semua itu terjadi karena
kita yang meminta?
Contohnya pada diri saya. Saya tau jika pelajaran matematika
fisika di sekolah saya sangat berbeda dengan pelajaran teman-teman di SMA, atau
sekolah umum. Lalu saya mengambil jurusan teknik sipil di universitas, tentulah
saya akan bertemu dengan namanya matematika dan fisika, dan ketika masuk
belajar di kelas saya harus memahami apa yang tidak pernah saya dapatkan saat
sekolah dulu.Saya ibarat anak bayi yang berusia kurang dari setahun, tiba-tiba
saya disuapi nasi yang keras dan dipaksa untuk memakannya dengan porsi yang
banyak.
![]() |
| (Gambar Ilustrasi 2. Sumber : alifetimeofwisdom.com) |
Bayangin saja teman-teman, jika saya mengikuti emosi yang
ada pada diri saya. Yakin dan percaya pasti saya sudah meninggalkan kampus
saya, meninggalkan jurusan yang saya pilih sendiri, dan kembali ke kota tempat
saya berkembang.Tapi tidak, alhamdulillah saya tidak mengikuti
emosi, justru dari semua itu saya bisa belajar lebih banyak lagi tentang
pengendalian diri. Saya sadar jika kita ingin berkembang kita harus melalui
sebuah tahap yang namanya tahap PEMAKSAAN. Kalau tidak percaya, mari kita putar
balik waktu, mengingat masa lalu. Ingat tidak sebelum kita masuk SD dulu kita
tidak tau yang namanya perkalian dan pembagian (walaupun sebagian orang sudah
diajari itu) tetapi tiba-tiba pas SD kita disuruh untuk menghafal perkalian
itu. Bukankah itu sulit? apalagi ketika disuruh hafal perkalian 1 sampai 10,
wiehh.. sulitnya minta ampun, tetapi akhirnya apa? Kita bisa juga, kan? Bahkan
bisa melebih 1-10. Jadi, kesimpulnya apa? SEMUA BERASAL DARI KATA PEMAKSAAN. :D
Nah, tetapi mari kita tanggapi positif pemaksaan itu.
Mengganti kata pemaksaan menjadi UJIAN. Ujian berarti kita sedang menuju untuk
ke tahap selanjutnya, untuk menuju ke tahapan yang lebih tinggi lagi. Sama
halnya ketika kita ingin melanjutkan studi ke SMP, kita harus lulus dulu dari
ujian SD. :) Okey sobat, jadi semuanya tergantung cara pandang kita sendiri.
Ketika kita menganggap itu adalah sebuah UJIAN, dan UJIAN itu adalah tahapan
penaikan level kita, in syaa Allah kita akan lebih giat lagi untuk
mengejar level itu, untuk menggapai level itu, dan ketika kita gagal pun kita
bisa termotivasi lagi untuk berusaha kembali. Akan tetapi ketika kita menggap
itu adalah SIAL, kita ini BODOH, dan menganggap bahwa itu hanya membuang waktu,
apalagi hanya mengikuti emosi negatif, maka yakin dan percaya kita tak akan
pernah berkembang. Kita hanya akan menjadi orang-orang yang penuh dengan
keputus asaan.. :-)
okey sobat.. sekali lagi saya minta maaf, bukan untuk
menggurui dsb.. tetapi tulisan ini saya buat untuk memotivasi (utamanya buat
diri sendiri). :)
and WIN : http://bit.ly/copy_win


No comments:
Post a Comment
Sahabat, berkomentarlah dengan santun.. Melalui komentar, semua orang dapat menilai sikapmu.. :)