COME BACK part 2 (motivation-habis)


.. okey lanjut lagi..

pembahasan kemarin sampai kalimat "Laa YukallifuLLAHu nafsan ILLA wus-aha"... 
jadi gini, sebelumnya saya mohon maaf kepada kawan2..
saya bukan ingin mengajari,, ataupun sebagainya.. 

(Gambar Ilustrasi. Sumber :rumahjurnalku.blogspot.com)
next... akhir-akhir ini saya baru sadari semua kelemahan saya. Terkadang saya ini terlalu cepat men"judge" diri saya sendiri, sehingga rasa putus asa selalu saja menghantui. 

Terkadang kita terlalu mudah untuk berputus asa, terlalu mudah untuk men"judge" bahwa diri kita tak mampu


dalam menyelesaikan sebuah permalasalahan. Terkadang kita menganggap kita lebih baik mundur dalam
persoalan itu. Padahal sadarkah kita jika sebenarnya semua itu terjadi karena kita yang meminta?
Contohnya pada diri saya. Saya tau jika pelajaran matematika fisika di sekolah saya sangat berbeda dengan pelajaran teman-teman di SMA, atau sekolah umum. Lalu saya mengambil jurusan teknik sipil di universitas, tentulah saya akan bertemu dengan namanya matematika dan fisika, dan ketika masuk belajar di kelas saya harus memahami apa yang tidak pernah saya dapatkan saat sekolah dulu.Saya ibarat anak bayi yang berusia kurang dari setahun, tiba-tiba saya disuapi nasi yang keras dan dipaksa untuk memakannya dengan porsi yang banyak.

(Gambar Ilustrasi 2. Sumber : alifetimeofwisdom.com)
Bayangin saja teman-teman, jika saya mengikuti emosi yang ada pada diri saya. Yakin dan percaya pasti saya sudah meninggalkan kampus saya, meninggalkan jurusan yang saya pilih sendiri, dan kembali ke kota tempat saya berkembang.Tapi tidak, alhamdulillah saya tidak mengikuti emosi,  justru dari semua itu saya bisa belajar lebih banyak lagi tentang pengendalian diri. Saya sadar jika kita ingin berkembang kita harus melalui sebuah tahap yang namanya tahap PEMAKSAAN. Kalau tidak percaya, mari kita putar balik waktu, mengingat masa lalu. Ingat tidak sebelum kita masuk SD dulu kita tidak tau yang namanya perkalian dan pembagian (walaupun sebagian orang sudah diajari itu) tetapi tiba-tiba pas SD kita disuruh untuk menghafal perkalian itu. Bukankah itu sulit? apalagi ketika disuruh hafal perkalian 1 sampai 10, wiehh.. sulitnya minta ampun, tetapi akhirnya apa? Kita bisa juga, kan? Bahkan bisa melebih 1-10. Jadi, kesimpulnya apa? SEMUA BERASAL DARI KATA PEMAKSAAN. :D

Nah, tetapi mari kita tanggapi positif pemaksaan itu. Mengganti kata pemaksaan menjadi UJIAN. Ujian berarti kita sedang menuju untuk ke tahap selanjutnya, untuk menuju ke tahapan yang lebih tinggi lagi. Sama halnya ketika kita ingin melanjutkan studi ke SMP, kita harus lulus dulu dari ujian SD. :) Okey sobat, jadi semuanya tergantung cara pandang kita sendiri. Ketika kita menganggap itu adalah sebuah UJIAN, dan UJIAN itu adalah tahapan penaikan level kita, in syaa Allah kita akan lebih giat lagi untuk mengejar level itu, untuk menggapai level itu, dan ketika kita gagal pun kita bisa termotivasi lagi untuk berusaha kembali. Akan tetapi ketika kita menggap itu adalah SIAL, kita ini BODOH, dan menganggap bahwa itu hanya membuang waktu, apalagi hanya mengikuti emosi negatif, maka yakin dan percaya kita tak akan pernah berkembang. Kita hanya akan menjadi orang-orang yang penuh dengan keputus asaan.. :-)

okey sobat.. sekali lagi saya minta maaf, bukan untuk menggurui dsb.. tetapi tulisan ini saya buat untuk memotivasi (utamanya buat diri sendiri). :)

"Laa YukallifuLLAHu nafsan ILLA wus-aha"

Copy and WIN : http://bit.ly/copy_win
Laa YukallifuLLAHu nafsan ILLA wus-aha

Copy and WIN : http://bit.ly/copy_win
Laa YukallifuLLAHu nafsan ILLA wus-aha

Copy and WIN : http://bit.ly/copy_win

No comments:

Post a Comment

Sahabat, berkomentarlah dengan santun.. Melalui komentar, semua orang dapat menilai sikapmu.. :)