"ini uang jajan buatmu nak, sekarang masuklah ke kelas, ayah sayang padamu"Dinginnya pagi sesaat terbakar oleh motivasi ayah padaku. Ya, ayah benar-benar membakar semangat pagiku kala itu.
Setiap kali diriku berjuang, dirinya selalu ada di sampingku. Ayah tak mau melihat anaknya harus kehilangan semangat karena dirinya tiada.
Tak akan pernah hilang di memoriku ketika ku berhasil meraih prestasi sekolah.
"Kamu pantas menjadi juara anakku, Kamulah yang terbaik untuk ayah" Ayah mengecup keningku.
Ayah, adalah sosok yang sangat berarti dalam hidupku setelah kusebut 3x nama ibuku. Ibu, ibu, ibu, dan Ayah.. Benar-benar tak ada yang bisa mengisi kekosongan ruang ketika nama ibu selesai terucap,
kecuali 4 huruf itu, A.Y.A.H..
Itu terjadi ketika ukuran 33 masih menghiasi telapak kakiku. Tas yang lucu juga masih terpampang dengan jelas di punggungku..
Setelah itu... tiada lagi, semuanya seakan memudar hingga sirna.
Kini Ayah lebih memilih tuk hidup dengan keluarga barunya, sehingga tak tinggal bersama kami lagi. Entahlah, mengapa ayah begitu tega tuk meninggalkan kami. Entah di mana kesalahan kami.
Namun, setiap empat huruf itu terucap dari lisan, hati ini bergetar, terasa pedih bercampur manis.
Ingin kuulang sekali lagi semua kenangan indah itu.
"Tuhan, kembalikanlah hidupku yang dulu... "*
Ketika mentari menyapa kubergegas, tuk mandi dan sarapan.. Nampaknya meja bundar beserta keluargaku telah bersiap tuk menyambutku dengan senyuman khas mereka.
"Selamat pagi... Sebelum makan baca doa dulu ya nak.. " ibu sambil terseyum ikhlas padaku.Sembari ku mengangguk tuk meng-iyakan saran ibu. Makanan yang sederhana akan teras lezat nan mewah ketika keluarga telah berkumpul. Akan tetapi... ada yang aneh, sangat aneh.. ke mana sosok motivatorku itu? mengapa di pagi ini ku tak melihatnya? . Sepintas ku terdiam di hadapan sepiring nasi putih yang berisi lauk-pauk itu.
"Ayo nak makan, nanti kamu terlambat ke sekolah" tegur ibu dengan matanya yang berbinar.Nampaknya kali ini ibu benar-benar mengerti apa yang aku rasakan, dan sepertinya dirinya juga merasakan apa yang kurasakan. Kuyakin ibu pasti lebih sedih dariku, karena ia harus kehilangan sosok yang pernah mengisi kehidupannya. Namun, ibu sangat pandai menyembunyikan semua itu. Ibu benar-benar kuat tuk menyembunyikan hasrat itu. Tidak sepertiku.
"hmm.. Jangan menghayal pagi-pagi, gak baik loh.. entar kesambet setan kesiangan" sesekali candaan ibu menjadi pemecah suasana.
"Sekarang kamu berangkat ke sekolah, belajar yang baik.. biar bisa sukses nantinya" ibu mencoba tuk memompa semangatku.**
Di sekolah, setiap kulihat teman-temanku bercengkrama dengan ayahnya, betapa irinya hatiku yang tak bisa seperti mereka, yang tak bisa saling berbagi canda tawa dengan kebahagiaan. Bahkan hujan deras yang mengguyur atap sekolahku pun menjadi saksi bisu irinya hatiku terhadap mereka dengan sosok ayah.
Ayah mereka menjemput didepan gerbang sekolah dan membawakan jas hujan, sedangkan aku ? Hanya beralaskan sendal jepit dan berjalan kearah mikrolet.
Ayah... Kurindakan dirimu
Ayah... Kurindukan kehangtanmu
Ayah... Kurindakan rasa sayangmu
Ayah... Kemana engkau berlalu?
Tuhan,
Kemana sosok yang cemerlang itu?
Kemana sosok yang selalu membakarku?
Mana dirinya yang dulu wahai Tuhanku?
Segumpal darah ini membeku tuk dirinya
Dirinya, yang menghiasi sukma
Tetesan air mata tak sanggup terbendung
di kala ku merenung.
Ayah, apa kau bisa memahami perasaanku?
Separuh jiwa hilang karenamu !
Separuh nafasku hilang karenamu !
Semuanya sirna dariku !
Oh Ayah..
Dengar aku !
Pahami perasaanku !
Rasa rindu selalu menjadi hantu !
[Sunting]
|Judul Asli : Lahar & Lava Kehidupan
|Penulis : Chairunisa Ibrahim
|Blog :http://chairunisaib.wordpress.com/
keep writing..
ReplyDelete