BUMILAH NAMAKU

Oleh : Farid - Mamuju, 15 April 2013

Dulu kusendiri di dunia ini, hanya ditemani oleh siang dan malam. Perlahan temanku telah datang, hatiku bahagia karena ada yang bisa merawat diriku. Teman-temanku terus bertambah, dan yang merawatku-pun semakin banyak. Perlahan mereka hilang begitu saja, mereka hilang dari hadapanku. 

Kehilangan mereka sunggu menimbulkan sakit yang amat pedih, mereka merawatku, mereka telah menghiasi duniaku. Diriku yakin setelah mereka meninggalkanku, aku kan mendapatkan teman yang lebih baik lagi dari mereka. Namun, zaman terus saja berkembang entah mengapa justru banyak keganjilan yang kurasakan. 

Awalnya kukira mereka kan memperhatikan diriku, mereka kan bersahabat dengan seluruh keluargaku. Namun, Diriku hanya teraniaya, entah apa salah ku? Ya, Apa salahku? Setiap hari mereka selalu
saja mengambil milikku. Padahal jika mereka tahu, aku akan selalu menyediakan apa yang mereka inginkan, asal mereka tak menganiaya diriku. 

Dulu kawanku memang sedikit, tapi mereka terus merawatku. Maka kuberikan apa yang mereka inginkan. Saat ini jauh berbeda, mereka justru egois, mereka selalu saja memaksakan diriku. Tangisan ku kini berbeda, dahulu ku menangis karena ku harus kehilangan yang aku cintai. Namun sekarang kumenangis karena berharap Tuhan akan menghilangkan mereka semua.

Oh Tuhan.... Kapan penderitaan ini berakhir? Diriku yang tua renta, justru semakin teraniaya. Mengapa tak ada yang memperdulikan tangisanku?
Oh Tuhan.... Diriku selalu memberikan apa yang mereka inginkan, tetapi mengapa mereka selalu saja berbuat jahat kepadaku?
Oh Tuhan.... Apa salahku?

Usiaku yang telah termakan zaman, membuatku pasrah akan keadaan, kini ku hanya bisa melihat mereka besenang-senang dengan keegoisan mereka.

Tolonglah aku kawan... BUMI-lah namaku.

No comments:

Post a Comment

Sahabat, berkomentarlah dengan santun.. Melalui komentar, semua orang dapat menilai sikapmu.. :)